Kamis, 20 Agustus 2009

Serat ijuk merupakan serat alam terbaik yang dimiliki Indonesia


Serat ijuk adalah serat alam yang mungkin hanya sebgian orang mengetahui kalau serat ini sangat lah istimewa di banding dengan serat lainya, serat berwarna hitam yang dihasilkan dari pohon aren memiliki banyak keistimewaan yang akan sediksaya uraikan di artiel ini, di antarnya :

1. Tahan lama hingga ratusan bahkan ribuan tahun lebih

Fakta membuktikan telah ditemukanya benda purbakala berupa tali ijuk dalam kondisi yang masih kuat, yang di perkirakan bersal dari peninggalan abad ke – 8, hal ini saya ambil dari kutipan koran kompas edisi Jumat, 24 Juli 2009 18:01 WIB yang di publikasikan di alamat :
http://oase.kompas.com/read/xml/2009/07/24/18013939/ditemukan.lagi.arca.dan.pasak.kayu.kuno
yang isinya:
”Petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah kembali menemukan arca, lingga, serta sejumlah kayu dan tali ijuk kuno saat mengekskavasi petirtaan di Desa Derekan, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Petirtaan yang diduga berasal dari abad ke-8 itu, Jumat (24/7) siang, mulai dibuka untuk umum.
"Lokasi temuan itu di bagian dalam petirtaan sisi selatan. Kami menemukannya Kamis petang menjelang akhir pekerjaan. Temuan kayu dan pasak itu menguatkan perkiraan bahwa petirtaan itu ada atapnya," tutur Andriyanto, petugas penggambaran Subkelompok Pemugaran Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah.
Temuan dua pasak itu berukuran sekitar 20 sentimeter. Satu di antaranya berbentuk sedikit lancip di salah satu sisi. Selain itu, ada pula lima potong kayu dengan ukuran bervariasi 20-40 sentimeter dalam kondisi lapuk. Tali yang ditemukan relatif masih kuat terbuat dari anyaman ijuk berwarna hitam”
Kutipan di atas jelas membuktikan bahwa serat ijuk mampu bertahan hingga seribu tahun lebih, dan tidak mudah terurai
2. Tahan terhadap asam dan garam air laut
Serat ijuk merupakn salah satu serat yang tahan terhadap asam dan garam air laut, salah satu bentuk pengolahan dari serat ijuk adalah tali ijuk, tali ijuk ini tidak lapuk oleh asam dan garam airlaut, oleh karana itu sudah sejak lama nenekmoyang kita menggunakan tali ijuk ini untuk berbagai pengikat bambu di air laut
3. Mencegah penembusan rayap tanah dan menyebabkan kematian yang tinggi, hingga 100%

sebuah lembaga penelitan universitas hasanudin telah melakukan penelitian mengenai serat ijuk sebagai perintang fisik serangan rayap tanah, berikut saya kutip dari hasil penelitian tersebut yang saya ambil dari alanat : http://74.125.153.132/search?q=cache:Ny7qDHGqbicJ:www.unhas.ac.id/lemlit/researches/view/315.html+ijuk+rayap+tanah&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id
‘’PENGEMBANGAN PERINTANG FISIK (PHYSICAL BARRIER)”
Serat-serat ijuk yang dihasilkan oleh pohon aren (Arenga pinnata Merr.) dapat dipanen setelah [pohon tersebut berumur 5 tahun dan secara tradisional sering digunakan sebagai bahan pembugkus pangkal kayu-kayu bangunan yang ditanam dalam tanah untuk mencegah serangan rayap. Kegunaan tersebut didukung oleh sifat ijuk yang elastis, keras, tahan air, dan sulit dicerna oleh organisme perusak. Namun demikian, penelitian efektivitas bahan alami tersebut dalam melindungi kayu-kayu kontruksi dari serangga perusak kayu seperti rayap belum pernah dilakukan. Berdasarkan hal tersebut, suatu rangkaian penelitian multi tahun didesain untuk mengevaluasi kelayakan pemanfaatan serat ijuk tersebut sebagai perintang fisik serangan rayap tanah. Pada penelitain ini telah dilakukan kajian terhadap struktur, sifat fisik, dan efektivitas ijuk aren yang diteliti disiapkan dari formasi alami maupun dari formasi pasarannya. Sampel-sampel ijuk tersebut dianalisisa secara mikroskopis untuk menentukan distribusi, bentuk, dan ukuran serat penyusunannya. Di samping itu juga dievaluasi kadar air, kerapatan zat, dan gramatur jaringan ijuk dari kedua formasi tersebut Hasil penelitian menunjukkan bahwa serat ijuk eren berbeda dengan serat kayu, karena serat ijuk tidak memiliki dinding dan lumen set tetapi merupakan suatu zat yng utuh (solid) . Karakteristik strukturar dari ijuk formasi alami berbeda dengan ijuk formasi pasaran sebagai akibat dari proses pemanenan dan pemilahannya sebelum dipasarkan. Ijuk formasi alami memiliki distribusi, bentuk, dan ukuran swerat yang lebih bervariasi dibanding ijuk formasi pasaran, Pada ijuk formasi alami dijumpai serat-serat bentuk segi empat, setengah bulat, dan bulat dengan proposi masing-masing 67 %, 27% dan 7%. Pada ijuk formasi pasaran, serat-serat yang dijumpai hanya memiliki bentuk setengah bulat dan bulat yang persentasi rat-ratanya masing-masing 42 % dan 58 %. Perbedaan tersebut juga dijumpai dalam hal ukuran serat. Ukuran serat pada ijuk formasi alami berkisar dari 0,07 mm (percabangan V) hingga, 3,03 mm (lidi), sedangkan ukuran serat. Ukuran serat pada ijuk formasi pasaran dihitung menurut ketebalannya berkisar dari 0,38 mm (percabanganIV) hingga,0,93 mm (serat utama) .Namun demikian, adanya proses percabangan menyebabkan serat-serat saling silang menyilang membentuk struktur jaringan ijuk yang dapat berupa lembaran, baik pada formasi alami maupun pada formasi pasaran. Percabangan tersebut membentuk sudut yang berkisar rata-rata 10 0 – 30 0 . Dalam hal sifat fisik, jaringan ijuk formasi almi tampak lebih homogen dibanding jaringan ijuk formasi pasaran. Dengan kadar air dan kerapatan kerapatan zat yang relatif sama, ijuk formasi alami dapat memiliki gramatur antara antara 429,33 hingga 547,33 g/m2, sedangkan ijuk formasi pasaran memiliki gramatur berkisar 361,78 to 603,55 g/m 2.Pengujian efektivitas lapisan ijuk formasi pasaran sebagai perintang fisik di laboratorium menunjukkan bahwa dengan cara penyusunan tertentu, lapisan ijuk dapat secara efektif mencegah penembusan rayap tanah dan menyebabkan kematian yang tinggi, yaitu samapai 100%. Hasil pengujian di lapangan selama periode waktu 6 bulan juga memberikan indikasi yang sama di mana lapisan ijuk mampu melindungi sampel kayu dari serangan rayap tanah .”
4. Sebagai perisai radiasi nuklir
Sebelumnya saya tidak pernah menduga kalau serat ijuk merukan salah satu bahan prisai radiasi nuklir, walaupun saya kurang memahami isi dari sebuah penelitan yang dilakukan oleh universitas hasanudin mengenain salah satu kegunaan serat ijuk sebagai bahan perisai radiasi nuklir tapi ini lebih lengkapnya hasil penelitian tersebut mungkin pembaca bisa lebih memahaminya. Kutipan tersebut saya ambil dari alamat : http://74.125.153.132/search?q=cache:Ny7qDHGqbicJ:www.unhas.ac.id/lemlit/researches/view/315.html+ijuk+rayap+tanah&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id
Yang isinya:
Modifikasi Serat Ijuk Dengan Radiasi Sinar – ? Suatu Studi Untuk Perisai Radiasi Nuklir
Telah dilakukan modifikasi serat ijuk dengan sinar ? (Co–60) dengan lama radiasi yang berbeda. Perbedaan lama radiasi menyebabkan perubahan derajat kristalinitas serat ijuk. Serat ijuk yang dimodifikasi dipergunakan sebagai penguat pada papan komposit serat ijuk dengan matriks resin poliester. Papan ini dipergunakan sebagai perisai terhadap radiasi nuklir. Orientasi serat yang berbeda dan modifikasi serat ijuk pada papan komposit tidak mempengaruhi daya serapnya terhadap radiasi nuklir sinar ? dan sinar ?. Fraksi berat serat mempengaruhi koefisien serapan papan ijuk terhadap sinar ? dan sinar ?. Dengan fraksi berat 40% koefisien serapan papan ijuk terhadap sinar ? lebih tinggi daripada aluminium.

Keistimewaan ijuk sangat lah banyak dan masih banyak hal yang belum kita ketahui dari ijuk, berbagai manfaat dan penggunaan ijuk yang saya ketahui sekarang ini baik itu utuk berbagai bahan peralatan yang banyak kita ketahui seperti, sapu ijuk, sikat ijuk, koas,kampas ijuk dll, ataupun untuk berbagai bahan material seperti tali pengikat bambu, untuk berbagai respan air pada saringan air, taman, lapang dll, untuk atap rumah, utuk campuran genteng semen, untuk capuran beton dan mungkin masih banyak lagi kegunaan lainya

Dari berbagai keistimewaan serat ijuk diatas munkin masih banyak lagi hal yang belum saya ketahui mengenai ijuk, bagi siapa pun yang membaca artikel saya ini dan mempunyai reperensi mengenai ijuk bisa mengirimkannya kepada saya, terimakasih






Tali ijuk


Bagaimanakah penerapan sambungan konstruksi bambu pada bangunan rumah makan Sari Sunda. Tujuan penelitian yang ingin diungkapkan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji sambungan konstruksi bambu melalui material bambu sebagai bahan konstruksinya.
Dari hal diatas peneliti merasa tertarik untuk mengamati dengan suatu pendekatan tertentu, dengan mengambil judul “Kajian Sambungan Konstruksi Bambu Pada Bangunan Rumah Makan Sari Sunda”.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Objek Penelitian difokuskan pada sambungan konstruksi bambu di rumah makan Sari Sunda. Sambungan konstruksi dalam penelitian ini dibatasi hanya pada sambungan konstruksi pondasi, kolom, dinding dan atap.
Berdasarkan hasil penelitian, sambungan konstruksi bambu pada bangunan Sari Sunda terdapat beberapa prinsip sambungan konstruksi bambu yang berbeda dengan kriteria atau sumber yang ada. Kendatipun ada perbedaan dalam sambungan konstruksi bambu itu hanya terdapat pada penggunaan konstruksi ikatan tali rotan dan paku sedangkan dalam teori atau sumber yang ada menggunakan konstruksi ikatan ijuk dan pasek. Hasil tersebut menunjukan bahwa konstruksi sambungan bambu pada rumah makan Sari Sunda sudah memenuhi kriteria atau sumber yang ada. Dimana kelemahan dari konstruksi ikatan rotan itu sendiri adalah mudah bergesernya ikatan yang diakibatkan oleh licinnya rotan, sedangkan untuk konstruksi paku adalah dapat terjadinya retakan pada bambu jika posisis dalam pemasangan paku tidak tepat dan paku dapat menyebabkan korosi (karat). Kemudian dalam teori ditemukan untuk kontruksi ikatan bambu menggunakan ijuk, konstruksi ikatan ijuk dapat lebih kuat mengikat sambungan antara bambu dikarenakan ijuk memiliki sifat yang kesat dengan bambu, sedangkan untuk konstruksi pasek memiliki keuntungan yaitu tidak terjadinya retakan pada bambu, dan sambungan bambu dapat memiliki sifat yang fleksibel artinya konstruksi sambungan bambu tidak kaku.

Sapu ijuk merupakan sapu terbaik untuk membersihkan rumah


Pengalaman saya bertahun-tahun membuat saya menyadari pentingnya sebuah sapu. Tanpa kehadirannya bisa dibayangkan betapa akan kotornya rumah dan sangat mungkin menjadi sarang penyakit.
Sapu terbagi menjadi beberapa varian. Ada sapu lidi, sapu ijuk, dan sapu plastik. Tiap-tiap varian ini ditujukkan untuk berbagai keperluan. Sapu ijuk misalnya, ada yang untuk di dalam rumah, dan ada pula yang untuk teras. Begitu pula sapu lidi, ada untuk merapihkan tempat tidur dan ada untuk menyapu sampah.
Bicara tentang menyapu rumah, pemilihan sapu adalah penting. Karena kualitas sapu akan menentukan kebersihan kamar selain teknik penyapuan itu sendiri. Saya pribadi selalu memilih sapu ijuk untuk menyapu. Sifatnya yang lentur dan terbuat dari bahan alami juga sangat tahan lam dan tidak akan lapu, menjadikannya nyaman untuk digunakan dan mampu membersihkan debu di lantai dengan baik.
Sayangnya keberadaan sapu ijuk makin terancam dengan maraknya sapu plastik di pasaran. Padahal kalau dicermati sapu plastik tidak bisa membersihkan sebersih sapu ijuk karena sifat sapu plastik yang kaku. Selain itu menggunakan sapu plastik juga tidak senyaman sapu ijuk. Ujung-ujungnya malah buang-buang energi dan waktu, dan hasil yang dicapai pun tidak sebersih yang diharapkan.
Sapu ijuk mudah di temukan di pasar tradisional, sedangan di supermarket atau hypermarket lebih banyak sapu plastiknya. Harga sapu ijuk juga bervariasi dan untuk mendapatkannya akan bergantung kepada kelihaian kita menawar.
Saya yakin sapu ijuk akan selalu lebih baik daripada sapu plastik. Warna ijuk yang hitam merupakan warna netral yang dapat masuk ke macam-macam warna gagang sapu. Tentunya ini membuat membuat koleksi sapu kita tidak monoton dan penuh warna Lebih jauh, sapu ijuk dapat dipergunakan dalam jangka waktu yang relatif lama selama digunakan secara wajar.
Dengan bahan yang terbuat dari bahan alami, sapu ijuk merupakan pilihan utama untuk menyapu kamar atau ruangan. Selain nyaman untuk digunakan, sapu ijuk juga mampu membersihkan lebih bersih dibanding sapu-sapu sintetis seperti sapu plastik. Nah, sudah sewajarnya lah bila kita lebih memperhatikan sapu ijuk, karena dalam dunia sapu menyapu, sapu ijuk terbukti lebih unggul.








Konstruksi reklamasi ancol dengan matras bambu yang di ikat tali ijuk


ANDA punya banyak bambu? Kalau mau dijual, mungkin bisa Anda hubungi PT Pembangunan Jaya Ancol. Tampaknya perusahaan milik pengusaha Ciputra itu akan membutuhkan banyak bambu. Bukan untuk dibuat angklung, tapi untuk menimbun pantai utara Jakarta. Reklamasi pakai bambu yang di ikat tali ijuk? Itulah yang bakal dilakukan perusahaan ini dengan membenamkan keramba bambu berisi pasir dan tanah.
Kini mereka sudah melakukan pelbagai persiapan. Soalnya, pekerjaan reklamasi sejauh 600 meter dari pantai itu rencananya dimulai awal tahun depan. ''Untuk tahap pertama dilakukan di lahan bagian barat seluas 50 hektare,'' kata Ridwan Pohan, Kepala Biro Pengelolaan Real Estate PT Pembangunan Jaya Ancol dalam seminar tentang reklamasi pantai, minggu lalu.
Pengerjaan pengurukan untuk dijadikan kawasan pemukiman itu diharapkan selesai dalam waktu dua tahun. Setelah itu, pengerjaan tahap kedua akan dimulai awal tahun 1998 dengan menimbun laut seluas 100 hektare di lahan sebelah timur. Di atas tanah urukan ini bakal dijadikan lapangan golf dan pemukiman. Setelah rampung, masih ada pembangunan tahap ketiga untuk membentuk daratan seluas 140 hektare di bagian tengah. Daratan ini akan dijadikan tempat rekreasi dan pariwisata. Seluruh pengurukan yang makan waktu 10 tahun itu, menurut Pohan, membutuhkan biaya sampai Rp 500 milyar.
PT Pembangunan Jaya Ancol sebagai perusahaan yang membangun Taman Impian Jaya Ancol ini memang merasa perlu melakukan langkah reklamasi karena mereka sudah merasa kekurangan lahan. Ketika Ciputra mulai membuka daerah yang dulu dikenal sebagai tempat jin buang anak itu pertengahan 1960-an, tak ada yang menduga usahanya akan sukses dan bakal butuh tambahan tanah.
Ciputra menyulap rawa seluas 552 hektare menjadi tempat hiburan dan pariwisata bergengsi. Tempat ini dibuka untuk umum pertama kali tahun 1967. Kini, dengan jumlah pengunjung lebih dari 10 juta tiap tahunnya, pengusaha ini merasa areal yang ada sudah tak mencukupi untuk menampung taman hiburan, hotel, hingga pemukiman.
Pengusaha yang juga sudah mengeringkan laut untuk dijadikan pemukiman Pantai Indah Kapuk ini merasa punya hak untuk menimbun laut milik negara itu. ''Kita sudah punya izin dari Dirjen Perhubungan Laut tahun 1981,'' kata Dirut Pembangunan Jaya Ancol Daryono pada majalah Forum Keadilan, beberapa waktu lalu.
Walau sudah ada izin seperti itu, sempat ada protes dari pemda DKI yang notabene pemilik sebagian saham PT Pembangunan Jaya. Waktu itu, wakil gubernur bidang ekonomi dan pembangunan TBM Rais menyatakan tidak akan mengizinkan pelaksanaan reklamasi jika tidak dilengkapi dengan studi amdal (analisa mengenai dampak lingkungan).
Namun, Ridwan Pohan mengatakan pada wartawan dalam seminar tersebut bahwa amdal proyek itu sudah disetujui oleh Komisi Amdal DKI. ''Konsultan kami dari Belanda sejak tahun 1982 melakukan studi di kawasan tersebut,'' kata Pohan.
Mengenai izin prinsip, menurut Pohan, juga sudah ada di kantung mereka. Yang masih mereka tunggu adalah izin operasional. ''Mudah-mudahan izin yang disahkan oleh gubernur Jakarta itu bisa segera dikeluarkan akhir tahun ini sehingga pekerjaan reklamasi bisa langsung dikerjakan,'' tambahnya.
Kalau dilihat dari sudut perizinan, PT Pembangunan Jaya Ancol tampaknya kini tinggal melangkahkan kaki saja. Tapi kini ada pihak mempertanyakan proyek tersebut karena pada areal yang sama akan dibangun proyek pemda yang lebih bermanfaat bagi banyak orang. Proyek pembangunan kota pantai itu memang baru dipaparkan gubernur DKI Surjadi Sudirdja di hadapan Presiden akhir Desember lalu. Namun, karena ini merupakan proyek raksasa dengan menimbun laut seluas 2.700 hektare, gubernur menegaskan bahwa semua izin reklamasi pantai dihentikan sementara menunggu selesainya konsep pembangunan kota pantai yang penilaian amdalnya lebih diperketat.
Karena itu, sehari setelah Ridwan Pohan memaparkan rencananya, datang pertanyaan dari ketua FPDI DPRD DKI Lukman Fritz Mokoginta. Ia menyatakan bahwa pemberian rekomendasi dan persetujuan amdal PT Pembangunan Jaya itu suatu langkah yang keliru. ''Karena tidak sinkron dengan peraturan yang ada,'' ujarnya. Menurut PP nomor 51 tahun 1993 tentang amdal, developer seharusnya mengacu pada amdal regional reklamasi pantai utara secara keseluruhan, tidak hanya sebagian-sebagian.
Padahal, amdal milik Pembangunan Jaya Ancol adalah amdal parsial, sedang reklamasi Ancol adalah bagian yang tak terpisahkan dari reklamasi pantai utara. Karena itu, Lukman menganggap komisi amdal DKI yang telah meloloskan amdal Ancol telah melakukan kesalahan. ''Komisi amdal harus meneliti kembali rekomendasi yang telah diberikan. Kalau setiap hektare ada amdalnya, biaya akan menjadi sangat mahal. Yang paling baik adalah menunggu amdal regional,'' ujarnya.
Ucapan senada pernah dilontarkan oleh penjaga gawang lingkungan, Menteri Sarwono Kusumaatmadja. Tak hanya Ancol saja yang dinilainya harus mengacu pada amdal regional yang disusun bersama, tapi juga reklamasi pantai di Tangerang dan Bekasi yang menyatu dengan pantai Jakarta. Rupanya, walau tanah daratan masih banyak yang belum dimanfaatkan, para pengusaha kini berebut mengeringkan laut untuk dijadikan lahan usaha.
Menanggapi masalah ini salah satu anggota Komisi amdal DKI Kosasih W. mengatakan pada Kompas bahwa rekomendasi untuk proyek reklamasi Ancol dibuat jauh sebelum proyek reklamasi raksasa dipaparkan. Persisnya, rekomendasi itu dikeluarkan tanggal 25 Agustus 1994. Rekomendasi itu dibikin berdasarkan surat persetujuan gubernur Jakarta sendiri.
Kosasih malah mengatakan bahwa reklamasi seluas 2.700 hektare itu belum baku sehingga tidak memungkinkan dilaksanakannya kajian amdal secara menyeluruh. Apalagi reklamasi ini akan mengubah RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) Jakarta tahun 2005. Untuk itu, pemda DKI harus membuat RDTR (Rencana Detail Tata Ruang) sebelum amdalnya dibuat. Amdal proyek ini memang belum rampung hingga kini, karena, menurut Gubernur harus dibuat dengan sungguh-sungguh agar tak menimbulkan banjir di mana-mana.
Reklamasi pantai, entah yang dilakukan Ancol maupun pemda DKI ataupun yang lain memang bisa bikin masalah lingkungan. Selain banjir, pengurukan bisa mengubah arus laut dan ini sudah terbukti bikin perkara dengan terganggunya PLTU Muara Karang akibat reklamasi Pantai Mutiara. Belum lagi gangguan yang akan terjadi di pelabuhan Tanjungpriok.
Di samping itu, untuk menguruk laut para developer itu jelas membutuhkan tanah dan pasir yang tidak sedikit. Untuk perluasan Ancol ini saja, mereka mengaku membutuhkan 15 juta meter kubik pasir. Walau tak pernah mengaku dari mana asal pasir tersebut, sudah bukan rahasia lagi bahwa mereka mengambilnya dari pulau-pulau di Kepulauan Seribu. ''Untuk menguruk Pantai Indah Kapuk dan Pantai Mutiara saja sudah banyak pulau yang tenggelam,'' kata staf ahli Menteri Lingkungan Hidup Herman Haeruman.
Dampak terakhir yang disorot Herman adalah tergusurnya masyarakat kecil, suatu hal yang umum terjadi bila ada pembangunan perumahan. Namun, kali ini bakal menimpa masyarakat nelayan yang tidak bisa mencari nafkah apa-apa bila dipindah ke daratan.

Teknik rakit bambu (bamboo raft) membantu memangkas biaya proyek


pohon bambu tumbuh subur dipelosok daratan asia timur, tenggara hingga selatan. Bambu banyak digunakan untuk keperluan rumah-tangga, dekorasi, perlengkapan makanan, perhiasan, kesenian, musik, alat-keamanan, perancah bangunan, alat transportasi dan lain-lain.
Dalam dua dasawarsa terakhir ini, fungsi bambu dikembangkan dalam bidang civil-engineering untuk memangkas biaya proyek. Proyek Pantai-Mutiara di Jakarta utara adalah proyek reklamasi pantai dengan cara menimbun pantai pada kedalaman dasar laut -2.0m hingga -4.0m dengan pasir dan tanah-merah hingga setebal rata-rata 8m.
Untuk mencegah timbunan tanah dari gerusan terjangan ombak, diperlukan struktur pelindung yang dinamakan breakwater atau seawall.Struktur seawall terdiri timbunan rubble mound ditutup armor beton (tetrapod), melindungi timbunan tanah sepanjang property-line. Karena dasar laut pantai-utara Jakarta terdiri lumpur lunak setebal rata-rata 18m, berat seawall yang diperkirakan sebesar 500 ton akan segera tenggelam kedalam lumpur tersebut.Banyak alternatif ditemui untuk mengatasinya, misalnya dengan replacement-soil, sand-column, stone-column, dynamic-compaction, geo-textile dan lain-lain.
Professor Dr.Ir.A.R.Soehoed, consultant-engineering dari PT.Puri-Fadjar-Mandiri-Indonesia, menemukan inovasi murah, alami namun aman, untuk mengatasi masalah settlement dan sliding tersebut.Settlement dari 45m seawall diatasi dengan bamboo-cluster; tujuh bambu diikat menjadi satu menjepit vertical-drain, kemudian dipancang dengan spasi 1.5m dibawah seluruh badan seawall. Diatas bamboo-cluster diletakkan bamboo-raft; terdiri tujuh lapis, masing-masing lapis terdiri 60 bamboo, diikat dengan tali ijuk (tali pengikat bamboo)menjadi satu untuk menahan sliding.Umumnya settlement diatasi dengan memancang sand-column atau stone-column, dan sliding diatasi dengan geo-textile. Namun dari inovasi bamboo-cluster dan bamboo-raft, Proyek Reklamasi Pantai-Mutiara mampu berusia 15 tahun hingga sekarang. Inovasi inipun akan digunakan untuk proyek-reklamasi yang lebih besar, reklamasi pantai seluas 2500ha di sebelah utara Pulau-Jawa, dinamakan Proyek-Pantura.
Bamboo helps decrease project expenses.
Bamboo Trees grow rapidly throughout the entire land of East, South East till South-Asia. Bamboo is used for household, artistic decoration, cooking utensils, ornaments, fine arts, music instruments, security-tools, building equipment, transportation tools and others. In the two last decades, the bamboo function is developed in the field of civil-engineering to decrease project expenses. The Pantai Mutiara Project in North Jakarta is a project of coast reclamation by piling up coast at sea floor deepness -2.0m till -4.0m with sand and thickened till the average of 8m. To prevent piling up of sand caused by wave forces scouring, a protector structure called breakwater or seawall is needed.The Structure seawall consists of hoard rubble mound which is closed by an armor concrete (tetrapod), to protect the land hoard as long as, the property line. Because the bottom of the North sea of Jakarta consist of soft mud with an average of 18m, the weight of the seawall which is predicted as heavy as 500 tons/m will immediately sink into the mud.Many alternatives are met to overcome it, for example with replacement soil, sand column, stone column, dynamic compaction, geo textile and others. Professor Dr. Ir. A.R. Soehoed, the Consultant Engineer from PT. Puri Fadjar Mandiri Indonesia, has found a cheap innovation, natural and safe, to overcome the problem settlement and sliding referred.A settlement of 45m seawall is overcome with bamboo clusters; seven bamboos are bound grow into one nip vertical drain, than it is piled forming in matrix formation with a space of 1.5m beneath the seawall. Above the bamboo clusters is laid bamboo raft; consist of seven layers, each of the layer consists of 60 bamboos, tied together to prevent sliding.Generally settlements are overcome with planting a sand-column or stone column, and sliding is overcome with geo textile. Nevertheless the innovation of bamboo clusters and bamboo raft, the Reclamation Project of Pantai Mutiara can exist 15 year up till now. This Innovation will also be used for larger reclamation projects, coast reclamation with a width of 2500ha beside North Java, named Proyek Pantura.